Lethwei dinobatkan sebagai seni bela diri yang berhasil menyatukan warga negara Myanmar, terlepas dari perbedaan kelas sosial, ekonomi, dan pandangan politik.
(Source: www.pexels.com)

Muay Thai merupakan salah satu seni bela diri yang paling terkenal dari Asia Tenggara. Kepopulerannya bahkan sampai dijadikan sebuah cabang olahraga sendiri yang memiliki beberapa pertandingan internasional. Akan tetapi, ternyata terdapat seni bela diri lain yang mirip seperti Muay Thai.

Salah satu bela diri asal Myanmar bernama Burmese Bareknuckle Boxing, atau yang lebih dikenal sebagai Lethwei, adalah bela diri yang dianggap sebagai saingan dari Muay Thai. Bahkan, seni bela diri Lethwei mungkin lebih mematikan dibandingkan seni bela diri asal Thailand tersebut. Meskipun beberapa orang Myanmar senang menonton pertandingan Lethwei sebagai sebuah hiburan semata di masa kini, akan tetapi seni bela diri tersebut ternyata sudah ada selama beberapa abad. Bahkan, Lethwei juga dilakukan oleh beberapa prajurit terhebat Myanmar.

Burmese Bareknuckle Boxing

Berasal dari awal tahun 1300an, seni bela diri nasional milik Myanmar bernama Lethwei ini dahulu dikenal sebagai Burmese Bareknuckle Boxing. Lethwei dianggap sebagai salah satu seni bela diri paling agresif dan paling dahsyat di dunia.

Pada awal pertama kali Lethwei muncul di Myanmar, para penggiat seni bela diri tersebut selalu bertarung dengan tangan kosong dalam setiap kompetisi. Sebagai alat pelindung, biasanya tangan mereka selalu dilindungi oleh kain khusus untuk melindungi tangan mereka dari kerusakan yang parah. Alhasil, Lethwei menjadi populer karena seni bela diri tersebut terlihat sangat penuh akan aksi yang menegangkan.

Untuk partisipasi sendiri, seluruh rakyat Myanmar boleh mengikuti ajang kompetisi tersebut. Baik itu dari kalangan bangsawan atau masyarakat biasa.

Lethwei Menjadi Olahraga Modern

Sebelumnya, Lethwei hanyalah sebuah seni bela diri tradisional belaka. Namun pada tahun 1952, seorang atlet Olimpiade dan ikon nasional Kyar Ba Nyein menjadikan seni bela diri tersebut sebagai olahraga modern yang memiliki beberapa aturan. Tidak hanya itu, dia juga memperkenalkan ring khusus untuk Lethwei. Hal tersebut menjadikan Lethwei menjadi olahraga yang aman dilakukan oleh banyak kalangan dan menciptakan lingkungan yang sportif. Lethwei yang sekarang dimainkan didasarkan pada Lethwei modern dari Kyar Ba Nyein.

Pada zaman dahulu, satu-satunya cara untuk memenangkan Lethwei adalah dengan membuat lawan tanding babak belur. Selain dengan cara itu, para petarung hanya akan dinyatakan seimbang. Beberapa teknik yang boleh dilakukan dalam Lethwei adalah sundulan kepala, mencekik, dan pukulan tinju bertubi. Hal tersebut sebenarnya membuat Lethwei menjadi sebuah pertandingan yang menarik. Akan tetapi, teknik tersebut dinyatakan sebagai terlalu brutal. Maka dari itu, seni bela diri tersebut mendapatkan kritik dari banyak negara.

Alasan tersebutlah yang membuat Kyar Ba Nyein ingin membuat Lethwei menjadi lebih aman. Yaitu dengan membuat beberapa aturan sehingga Lethwei lebih diterima oleh dunia internasional. Cara yang Kyar Ba Nyein lakukan dalam membuat aturan ini adalah dengan berkunjung ke beberapa daerah yang masih melakukan Lethwei dengan aturan zaman dahulu. Setelah dia berkunjung dan memberitahukan versi Lethwei yang lebih aman dan modern, dia mengundang beberapa orang untuk berpartisipasi dalam sebuah pertandingan. Dari sinilah tercipta Lethwei sebagai seni bela diri yang sebenarnya.

Seni Sembilan Anggota Badan

Lethwei juga dikenal sebagai seni sembilan anggota badan. Sebab, seni bela diri tersebut membolehkan penggunanya untuk menggunakan kepalan tinju, kaki, sikut, lutut, dan sundulan kepala. Meski dibilang mirip dengan Muay Thai, tetapi teknik yang baru saja disebutkan tersebutlah yang membuat Lethwei berbeda.

Pada seni bela diri lain, melakukan sundulan kepala merupakan tindakan yang ilegal. Akan tetapi, dalam Lethwei teknik tersebut termasuk ke dalam teknik perlindungan diri. Karena dahi merupakan salah satu tulang paling kuat dalam tubuh manusia, maka teknik tersebut tidak dihapus dalam Lethwei modern.

Tiga Atlet Kickboxer Bertanding Dengan Atlet Lethwei

Pada tahun 2001, tiga atlet Kickboxer asal Amerika Serikat bernama Shannon Ritch, Albert Ramirez, dan Doug Evans bertanding melawan para atlet Lethwei dalam ajang pertandingan internasional pertama seni bela diri tersebut. Sayangnya, ketiga atlet tersebut dikalahkan secara knockout pada babak pertama.

Tidak hanya itu, Jepang turut serta mencoba keberuntungan mereka di tahun 2004. Atlet seni bela diri campur Akitoshi Tamura merupakan satu-satunya atlet Jepang yang kala itu berhasil mengalahkan Aya Bo Sein, seorang atlet Lethwei, pada ronde kedua.

Sejak saat itu, kini Lethwei tidak hanya dapat dilakukan oleh masyarakat Myanmar saja. Banyak warga negara lain yang juga berlatih Lethwei sehingga mereka menciptakan beberapa atlet Lethwei asal negara sendiri.

Merayakan Nilai Seni Bela Diri Tradisional

Sama seperti seni bela diri lainnya, Lethwei sangat menegaskan nilai-nilai seni bela diri tradisional seperti keberanian, harga diri, disiplin, rendah diri, dan menghargai. Para penggiat Lethwei memang dikenal sebagai petarung paling kuat di dunia. Meski begitu, mereka merupakan orang-orang yang sangat baik. Bahkan karena hal tersebut, Lethwei dinobatkan sebagai seni bela diri yang berhasil menyatukan warga negara Myanmar, terlepas dari perbedaan kelas sosial, ekonomi, dan pandangan politik.